Friday, January 21, 2011

Karya yang Lahir dari Keringat dan Air Mata

Wednesday, 22 December 2010 22:59 Media Online BhirawaE-mail


Resensi Buku
:
Judul        : TKW Menulis
Penulis      : Bayu Insani & Ida Raihan
Penerbit    : Leutika, Yogyakarta
Cetakan    : Pertama, Desember 2010
Tebal       : xxii+ 198 hlm
ISBN        : 978-602-8597-58-6
Peresensi  : 
Kholil Aziz
Peresensi adalah pustakawan Pon. Pes. Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan - Madura


TKW menjadi status paling rendah, karena kebanyakan profesi TKW Indonesia menjadi pembantu rumah tangga atau buruh migran di negara rantau. Rendah menjadi streotipe dan direndahkan seakan menjadi kewajiban. Sungguh ironi, ketika humanisme dan demokrasi digembar-gemborkan secara universal, TKW malah semakin tidak mempunyai kesempatan untuk bernafas lega.


Berita penyiksaan tak berkeprimanusiaan di negara tetangga terhadap TKW kita selalu menjadi headline news di media cetak dan online. Dari tahun ke tahun topik pembicaraan masalah TKW tak pernah menemukan muaranya. Mulai dari pelakuan tak senonoh hingga penyiksaan diluar kewajaran.

Apakah ada yang salah dengan TKW? Apakah karena mereka itu pembantu sehingga mereka tidak layak diperlakukan dengan baik dan hidup bebas? Apakah karena keterbatasan sehingga mereka tidak bisa berkreativitas? Sungguh tidak bijak sekali jika hanya menilai dunia TKW sesempit ruang-ruang keterbatasan mereka.
Praduga kita selama ini salah, justru melalui keterbatasan waktu dan tenaga itu yang bisa membuat pahlawan devisa ini kehidupannya menjadi tegar, pantang menyerah. Disela-sela kesibukan meraka mengurus rumah, anak, makan siang-malam majikan, mereka masih sanggup berkaya.

Larik-larik baris yang tertoreh lewat secarik kertas kusam menjadi saksi atas semua kesedihan yang terpendam bagitu dalam di dalam hati, dimana orang lain tak pernah tahu kecuali dia dan Tuhannya. Dari huruf ke kata, dari kalimat ke baris-baris hingga tercipta pragraf menjadi begitu bermakna.

Dari kegelisahan hinggan rasa perih yang begitu mendalam dan menusuk hati, semua terangkum dan tersusun lewat sebaris keringat yang mengucur deras, lalu mereka menumpahkan kreativitasnya dalam sebuah buku. Dari buku inilah mereka mulai menggeliatkan eksistensinya.

Eksistensi TKW sebagai pembantu rumah tangga, eksistensi sebagai penulis, dan eksistensi sebagai pahlawan devisa negara. Menyelam sambil minum air sekaligus makan roti, mereka juga menjadi pahlawan devisa bagi diri sendiri dan juga dunia kepenulisan.

Sudah sekian banyak bukti karya-karya terbaik mereka justru lahir dari keterbatasan yang tak terbayangkan sebelumnya. Sejumlah TKW asal Indonesia yang bekerja di Hong Kong sudah banyak menerbitkan buku fiksi kumpulan cerita pendek, opini, dan kisah nyata dengan dukungan penuh dari Forum Budaya Buruh Migran Indonesia (FBBMI) di Hong Kong.

Komunitas penulis TKW Indonesia di Hong Kong cukup solid. FLP Hong Kong sudah lama terbentuk sebagai bukti eksistesi mereka, TKW yang penulis. Tak tanggung-tanggung, sering kali mereka menghadirkan penulis sekaliber Helvy Tiana Rosa, M. Irfan Hidayatullah M. Hum, dll. Fenomena buruh migran menulis ini mencuat sejak 2005. Dari para pekerja rumah tangga asal Indonesia yang bekerja dan yang pernah bekerja di Hong Kong telah lahir banyak karya yang dibukukan. Seperti novel Ranting Sakura, Memoar Sang Kungyan, Panari Naga Kecil, Majikanku Empu, dan Perempuan Negeri Beton

Banyaknya karya bermunculan dari TWK Hong Kong karena sokongan banyak komunitas kepenulisan yang didirikan TKW Indonesia, misalnya sanggar penulisan atau sanggar sastra, seperti Komunitas Perantau Nusantara, Cafe de Kossta dan FLP sendiri.

Kebebasan berkarya di negara beton tersebut juga karena ditopang oleh dukungan pemerintah Hong Kong yang selalu membela kebenaran meski itu TKW, asalkan benar. Sejumlah kegiatan sudah sering digelar oleh sanggar-sanggar itu untuk mengembangkan budaya menulis TKW. Kita patut memberi apresiasi besar terhadap semangat juang 45 mereka. Melalui buku TKW Menulis ini, kedua penulis Bayu Insani dan Ida Raihan menorehkan semua cerita hariannya, mulai dari kehidupannya di tanah air hingga kesehariannya di Negeri Beton (Hong Kong).

Keluh kesah nan pedih itu semua terekam dalam buku ini, mulai dari titah Nyonya yang otoriter hingga larangan yang bisa ditolerir seperti larangan menonton TV, bermain handphone sampai yang nggak masuk akal seperti larangan memakai pakaian berwarna. Sisi unik dari buku ini, dikisahkannya sisi kelam para TKW Hong Kong yang terpkasa memilih untuk menjadi lesbian untuk melampiaskan rasa stressnya -akibat perlakuan majikan yang kadang tak senonoh- dengan melacur, berjudi dan mabuk, dan hal-hal lain yang melanggar larangan agama.

Dalam buku ini sebagian besar bercerita kehidupan sehari-hari mereka, termasuk apa yang mereka lihat, dan apa yang pantas dimaknai dari sekeliling mereka. Dan kita akan banyak memetik manfaat lewat buku ini, tentang pentingnya janji dan ketepatan waktu yang di Hong Kong itu merupakan suatu budaya. Seperti umumnya kita ketahui bahwa kehidupan TKW penuh dilema dan bersimbah air mata, begitu juga dalam buku ini, semua cerita dalam tak lepas dari cerita pilu nan tragis dan kadang juga secuil kebahagiaan, hadir dalam buku ini. Meski harus ditukar dengan kesengsaraan hidup di negari asing demi kampung halaman. Melalui buku ini pula, semangat hidup dan motivasi lahir sebagai wujud penyemangat bagi pihak lain, terutama para TKW di luar sana. Bahwa keterbatasan bukan penghambat utama dalam berkarya. Justru lewat keterbatasan dan kepedihan sebuah karya terlahir penuh makna dan memiliki nilai lebih. ***


source: milis

No comments:

Post a Comment